Sunday, November 2, 2014

SATURASI FLUIDA

Saturasi fluida adalah perbandingan antara volume pori batuan yang ditempati oleh stu fluida tertentu dengan volume pori batuan . adapun jenis- jenis dari saturasi batuan reservoir yaitu :
1.      Saturasi gas adalah volume pori yang diisi gas dibagi dengan volume total yang dinyatakan dengan Sg.
2.      Saturasi minyak adalah volume pori yang diisi minyak dibagi dengan volume pori total yang dinyatakan dengan So.
3.      Saturasi air adalah volume pori yang diisi air dibagi volume pori total yang dinyatakan dengan Sw.
Persamaan untuk saturasi suatu fluida dapat dirumuskan sebagai berikut :
Sw = Vw/Vp X 100%
So  = Vo/Vp X 100%
Sg = Vg/Vp X 100%
Dimana :
Vw = volume air, cc
Vp = Volume pori, cc
Vg = Volume gas, cc
Jika pori – pori batuan diisi oleh fluida minyak, gas, dan air, maka berlaku hubungan :   Sg + So + Sw = 1
Jika diisi oleh minyak dan air saja, maka berlaku hubungan :
Sg + So = 1
 Pemberian skala visual untuk saturasi fluida :
So > 10%, Sw < 50%, adalah lapisan yang memproduksi minyak.
So < 10%, Sw < 50%, adalah lapisan yang memproduksi gas.
S< 10%, Sw > 50%, adalah lapisan yang memproduksi air.

PERFORASI

Perforasi merupakan suatu kegiatan ketika lubang sumur siap diproduksi dan bahan peledak merupakan bagian terpenting dari kegiatan tersebut. Kegiatan perforasi mempunyai bermacam-macam teknik atau cara perforasi dan kondisi kerja perforasi terbagi atas dua berdasarkan kondisi tekanan lubang bornya, salah satu contohnya adalah kondisi lubang sumur yang overbalance (kondisi dimana tekanan hidrostatik lebih besar sedikit daripada tekanan fluida formasi) maka kegiatan perforasi yang dapat dilakukan yaitu dengan teknikHSD (High Shoot Density).
Fungsi utama dari kegiatan perforasi adalah pembuatan lubang menembus casing, semen dan formasi sehingga terjadi komunikasi antara formasi dengan sumur yang mengakibatkan fluida formasi pada lapisan produktif dapat mengalir kedalam sumur atau diproduksikan. Penggunaan bahan peledak (perforator) pada kegiatan perforasi bertujuan untuk melubangi ketiga hal diatas, dalam prose pelubangan (perforasi) diperlukan tekanan yang besar, karena itu jenis bahan peledak yang digunakan harus disesuaikan dengan cara atau teknik perforasi yang akan diaplikasikan.
Dari permasalahan diatas penulis tertarik untuk melakukan penelitian terhadap kegiatan perforasi terutama kegiatan perforasi dengan teknik HSD. Tema kerja praktek kali ini dikhususkan mengenai proses operasi perforasi dengan teknik HSD.

COMPRESSIVE STRENGTH DAN SHEAR STRENGTH

Strength pada semen terbagi menjadi dua yaitu compressive strength dan shear stregth. Compressive strength didefinisikan sebagai kekuatan semen dalam menahan tekanan-tekanan yang berasal dari formasi maupun dari casing, sedangkan shear strength didefinisikan sebagai kekuatan semen dalam menahan berat casing. Jadi compressive strength menahan tekanan-tekanan dalam arah horisontal dan shear strength menahan tekanan-tekanan pada arah vertikal. Compressive strength dipengaruhi oleh besarnya kandungan air dalam suspensi semen dan lamanya waktu pengkondisian (curing time). Dalam mengukur strength semen seringkali yang diukur adalah compressive strength, sedang shear strength kurang diperhatikan. Umumnya compressive strength mempunyai harga 8 – 10 kali lebih dari harga shear strength. Pengujian compressive strength di laboratorium dilakukan dengan menggunakan alat “Curing Chamber” dan water curing bath, untuk kemudian diuji kekerasannya dengan menggunakan hydraulic chamber. Curing chamber dapat mensimulasikankondisi semen untuk tekanan dan temperatur tinggi sesuai dengan temperatur dan tekanan formasi. Hydraulic chamber merupakan mesin pemecah semen yang sudah mengeras dalam curing chamber. Compressive strength minimum dirokemendasikan oleh API untuk dapat melanjutkan operasi pemboran adalah 500 psi. Sedang shear strength yang baik tidak kurang dari 100 psi, sehingga casing dapat terikat dengan kokoh. Dalam keadaan ini pemboran sudah dapat dilanjutkan. Dari segi teknis, strength semen diharuskan memenuhi persyaratan sebagai berikut :
a. Kuat menahan pipa selubung.
b. Mengisolasi zona-zona permeabel.
c. Menahan goncangan-goncangan pemboran dan tidak pecah karena perforasi.

d. Mencegah terjadinya kontak antara casing dengan fluida formasi.