Wednesday, November 5, 2014

KICK

2.1.        Tekanan Formasi
            Pada tekanan Formasi di kenal tiga macam :
·         Tekanan Overbourden
·         Tekanan fluida formasi
·         Tekanan Rekah formasi
2.1.1.   Tekanan Overbourden
            Tekanan yang diakibatkan oleh seluruh beban yang berada di atas suatu kedalaman tertentu tiap satuan luas di derita fluida akibat beban batuan diatasnya.
P = Go D
Go = gradient tekanan Overbourden psi / ft
D = kedalaman
2.1.2.   Tekanan fluida formasi, terdapat :
2.1.2.1.    Tekanan fluida formasi normal
                Tekanan fluida (minyak, gas, air) yang bekerja pada pori – pori batuan. Secara hidrostatis untuk keadaan normal sama dengan keadaan tekanan kolom cairan yang ada didalam dasar formasi sampai ke permukaan. Bila isi dari kolom yang terisi cairannya bebeda, maka besarnya tekanan hidrostatik berbeda, untuk kolom air tawar sebebsar 0.433 psi/ft dan untuk kolom air asin gradient tekanan hidrostatiknya sebebsar 0.465 psi/ft
                Formasi di katakan normal apabila garadient tekanan formasinya 0.465 psi.
2.1.2.2.    Tekanan formasi Abnormal
                Yang dimaksud dengan tekanan formasi abnormal biasanya tekanan formasi yang lebih besar dari yang di perhitungkan pada gradient hidrostatik. Hal ini di sebabkan oleh kompaksi sedimen yang ada di atasnya sedemikian rupa sehingga air yang keluar dari lempeng tidak langsung dapat menghilang dan tetap berada di dalam batuan.
2.1.2.3.    Tekanan formasi Subnormal
                Tekanan formasi yang berada di bawah tekanan hidrostatik normal, kejadiannya bias akibat proses geologi naik turunnya formasi.
2.1.3.   Tekanan Rekah formasi
                        Tekanan dimana formasi itu akan merekah, karena adanya tekanan yang besar dari dalam lubang bor
                        Kalau formasi rekah tentunya lumpur pemboran akan lari masuk ke formasi. Besarnya gradient tekanan rekah dipengaruhi oleh besarnya tekananoverbourden, tekanan formasi dan kondisi kekuatan batuan.
                        Mengetahui gradien tekanan rekah sangat berguna ketika meneliti kekuatan casing, sedangkan bila gradient tekanan rekah tidak diketahui maka akan mendapat kesulitan dalam pekerjaan penyemenan dan penyelubungan sumur.                 
2.2.      Pengertian kick
            Kick adalah merupakan suatu proses masuknya fluida formasi ke dalam lubang sumur. Terjadi karena kondisi tekanan Hidrostatik (Ph) lebih kecil dari pada tekanan formasi (Pf). Tekanan Hidrostatik turun tergantung pada berat jenis lumpur, dan ketinggian kolom lumpur.
2.3.      Penyebab terjadinya Kick
            Kick dapat terjadi karena disebabkan oleh :
1.    Berat jenis lumpur yang tidak memadai
2.    Swab Effect
3.    Menembus formasi gas
4.    Tinggi kolom lumpur

2.3.1.   Berat jenis lumpur yang tidak memadai
            Berat jenis lumpur turun dikarenakan bercampurnya fluida formasi dengan lumpur bor, fluida formasi yang cepat menurunkan berat jenis lumpur adalah gas.
2.3.2.   Swab Effect
                        Swab Effect terjadi apabila pencabutan rangkaian pipa pemboran yang terlalu cepat, dan viscositas lumpur yang terlalu tinggi. Hal ini menyebabkan lumpur yang diatas bit  terlambat turun ke bawah bit sehingga ruangan yang berada di bawahbit menjadi vakum, sehingga fluida formasi masuk kedalam lubang.
                        Pencegahannya dapat dilakukan dengan mencabut rangkaian pipa bor jangan terlalu cepat, terutama di dalam open hole, dan usahakan viscositas lumpur jangan terlalu tinggi.

2.3.3.   Menembus formasi gas
                        Formasi gas mengandung gas di dalam pori – pori batuannya, waktu menembus formasai gas, cutting yang dihasilkan akan mengandung gas. Gas keluar dari cutting dan masuk kedalam lumpur, makin lama gas makin banyak sehingga akan menurunkan berat jenis lumpur.

2.3.4.   Tinggi kolom lumpur
                        Tinggi kolom lumpur dapat turun dikarenakan lumpur yang masuk kedalam formasi (lost circulation), sehingga hal ini menyebabkan terjadinya kehilangan sirkulasi, maka berakibat berkurangnya volume lumpur juga dan akhirnya mengurangi tekanan hidrostatik lumpur itu sendiri, maka cairan formasi akan mendesak lumpur dalam sumur juga.
Hal ini dapat disebabkan oleh :
1.    Formasi pecah
2.    Bit masuk formasi berongga, bergoa atau rekahan

2.4.      Tanda – tanda terjadinya kick
            Tanda – tanda Well kick dalam operasi pemboran dapat diketahui dari beberapa parameter, yaitu :
            2.4.1.   Saat sedang dilangsungkannya pemboran
1.  Laju penembusan tiba – tiba naik
2.  Volume di lumpur naik
3.  Tekanan pompa untuk sirkulasi turun dengan kecepatan pompa naik.
4.  Hadirnya gelembung – gelembung gas pada lumpur
2.4.2.   Saat menyambung pipa, pompa dihentikan
            1.  Aliran tetap walaupun pompa dihentikan.
            2.  Volume lumpur di tangki bertambah.
            3.  Tekanan pompa untuk sirkulasi makin turun dengan bertambahnya pipa.


2.5.      Kondisi tekanan system pada saat normal, saat Well kick dan pada saat penanggulangannya.
            2.5.1.   Kondisi tekanan ketika operasi pemboran berjalan dengan normal.
1.    Besarnya tekanan lumpur yang keluar dari annulus sangat kecil mendekati nol, supaya lumpur tersebut tidak tersembur ke atas tetapi yang diinginkan berupa pengaliran dari flow line ke shale shaker dan alat – alat lainnya sampai ke tangki lumpur.
2.    Karena selama operasi pemboran tersebut lumpur mulai dari pompa sampai kembali di flow line mengalami kehilangan tekanan (pressure loss) akibat lumpur bergesekan dengan pipa – pipa dan viscositas lumpur itu sendiri, sedangkan dalam keadaan static tekanan dalam pipa dan annulus pipa dipermukaan sama yaitu nol, maka ketika sirkulasi terjadi pompa harus memberikan tekanan kepada lumpur sebesar tekanan yang hilang sepanjang jalan yang dilalui.
3.    kondisi tekanan selama operasi pemboran berjalan dengan normal ialah, gradient tekanan lumpur dinamik di annulus lebih besar sedikit dari gradient tekanan lumpur static  dan lebih besar dari gradient tekanan formasi. Dalam kondisi ini dijamin tidak ada fluida formasi yang masuk kedalam lubang bor yang kita sebut dengan Well kick.

            2.5.2.   Tekanan operasi ketika ada kick
                        Hadirnya kick pada sumur pemboran menunjukkan bahwa gradient tekanan formasi lebih besar dari gradient tekanan hidrostatik lumpur.
                        Gradient tekanan static formasi lebih besar dari gradient tekanan dinamik lumpur maupun gradient tekanan static lumpur sehingga menyebabkan fluida formasi mendesak masuk ke lubang bor.
            2.5.3.   Tekanan operasi penanggulangan
                        Pada kondisi normal tekanan formasi cukup terpenuhi oleh tekanan hidrostatiklumpur sehingga tekanan di permukaan beharga nol.
                        Pada kondisi kick tekanan formasi dipenuki oleh tekanan hidrostatik lumpur danhidrostatik kick.
            2.5.4.   Calculate
                        2.5.4.1.     Calculate Estimated Kick Length
                                        ....................................... (2.1)
                        2.5.4.2.     Calculate Approximate Density
                                                                                                             ……..(2.2)

                

Seperti yang telah diketahui bahwa kick adalah masuknya fluida formasi yang tidak kita inginkan pada saat pemboran berlangsung atau tidak, maka kita harus dapat mengantisipasi kejadian tersebut, karena hal itu dapat merugikan pemboran yang sedang berlangsung, apabila kick tidak dapat tertanggulangi, maka kick  tersebut akan menyembur ke permukaan yang di sebut dengan semburan liar atau blowout. Hal ini akan manyebabkan kerugian yang besar, seperti hilangnya peralatan akibat  terbakar hingga nyawa pekerja pun menjadi taruhannya. untuk itu di perlukan suatu pengontrolan sumur yang lebih kita kenal dengan Well Control.
Basic perhitungan dari well control merupakan bagian dari proses sirkulasi lumpur, yang mana meliputi penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian, tekanan, densitas fluida, volume sirkulasi juga perlu diketahui di dalam suatu sumur.

LUMPUR PEMBORAN

Lumpur pemboran menurut API (American Petroleum Institute) didefinisikan sebagai fluida sirkulasi dalam operasi pemboran berputar yang memiliki banyak  variasi fungsi, dimana merupakan salah satu factor yang berpengaruh terhadap optimalnya operasi pemboran. Oleh sebab itu sangat menentukan keberhasilan suatu operasi pemboran
Secara umum, lumpur pemboran dapat dipandang mempunyai empat komponen atau fasa, yaitu ;
a.    fasa cair (air atau minyak); 75% lumpur pemboran menggunakan air.
Istilah oil-base digunakan bila minyaknya lebih dari 95%.
b.  reactive solids, yaitu padatan yang bereaksi dengan air membentuk koloid (clay); dalam hal ini clay air tawar seperti bentonite mengisaqp (absorb) air tawar dan membentuk lumpur.
c.  inert solids (zat padat yang tak bereaksi); ini dapat berupa Barite (BaSO4) yang digunakan untuk menaikkan densitas lumpur. Selain itu, juga berasal dari formasi-formasi yang dibor dan terbawa lumpur, seperti chert, pasir atau clay-clay non swelling, sehingga akan menyebabkan abrasi atau kerusakan pompa.
d.  fasa kimia; merupakan bagian dari system yang digunakan untuk
mengontrol sifat-sifat lumpur, misalnya dalam disperson (menyebarkan partikel-partikel clay) atau flocculation (pengumpulan partikel-partikel clay). Efeknya terutama tertuju pada peng ‘koloid’ an clay yang bersangkutan. Zat-zat kimia yang mendispersi (menurunkan viskositas/mengencerkan) misalnya : Quebracho, phosphate, sodium tannate, dll. Sedangkan zat-zat kimia untuk menaikkan viskositas, misalnya : C.M.C, starch, dan beberapa senyawa polimer.

2.2. Jenis – Jenis Lumpur Lemboran
ZABA dan DOHERTY (1970) mengklasifikasikan lumpur bor terutama berdasarkan fasa fluidanya : air (water base), minyak (oil base) atau gas, sebagai berikut :
I. Fresh Water Muds (lumpur air tawar)
    a. Spud
    b. Natural atau Native (alamiah)
    c. Bentonite – treated
    d. Phospate – treated
    e. Organic coloid – treated
    f. “Red” atau alkaline – tannate treated
    g. Calcium muds
     1. Lime – treated
     2. Gypsum – treated
     3. Calcium – (selain 1 & 2) - treated
II. Salt Water Muds (air asin)
a.   Unsaturated salt water
b.   Saturated salt water
c.   Sodium silicate
III. Oil in Water Emulsion
a.     Fresh Water (air tawar)
b.      Salt Water (air asin)
IV. Oil Base dan Oil Base Emulsion Muds
V. Gaseous Drilling Fluids
     a. Udara atau Natural gas
     b. Aerated Muds

2.2.1. Fresh Water Muds
Adalah lumpur yang fasa cairnya adalah air tawar dengan (kalau ada) kadar garam yang kecil (kurang dari 10000 ppm = 1 % berat garam). Jenis-jenis lumpur fresh water muds adalah : Spud MudNatural Mud, Bentonite – treated mud, Phosphate treated mud, Organic colloid treated mud, “Red” mud, Calcium mud, Lime treated mud, Gypsumtreated mud dan Calcium salt.
a.      Spud Mud, adalah lumpur yang digunakan pada pemboran awal atau bagian atas bagi conductor casing. Fungsi utamanya adalah untuk mengangkat cutting dan membuka lubang di permukaan.
b.      Natural Mud, yaitu dibentuk dari pecahan-pecahan cutting dalam fasa cair, sifat-sifatnya bervariasi tergantung formasi yang di bor. Lumpur ini digunakan untuk pemboran yang cepat seperti pemboran pada surface casing.
c.      Bentonite – treated Mud, yaitu mencakup sebagian besar dari tipe-tipe air tawar. Bentonite adalah material paling umum yang digunakan untuk koloid inorganic yang berfungsi mengurangi filtrate loss dan mengurangi tebal mud cake. Bentonite juga menaikkan viscositas.
d.      Phospate treated Mud, yaitu mengandung polyphospate untuk mengontrol viscositas gel strength dan juga dapat mengurangi filtrate loss serta mud cake dapat tipis.
e.      Organic colloid treated Mud, terdiri dari penambahan pregelatinized starch atau carboxymethyl cellulose pada lumpur yang digunakan untuk mengurangi filtration loss pada fresh water mud.
f.     Red Mud, yaitu mendapatkan warnanya dari warna yang dihasilkan oleh treatment dengan cautic soda dan gueobracho (merah tua). Jenis lumpur ini adalah alkaline tannate treatment dengan penambahan polyphospate untuk lumpur dengan pH dibawah 10.
g.      Calcium Mud, yaitu lumpur yang mengandung larutan calcium (di sengaja). Calcium bisa ditambah dengan bentuk slake lime (kapur mati), semen, plaster (CaSO4) atau CaCl2.



2.2.2 Salt Water Mud
Lumpur ini digunakan terutama untuk membor garam massive (salt dome) atausalt stringer (lapisan formasi garam) dan kadang-kadang bila ada aliran air garam yang terbor. Filtrate loss-nya besar dan mud-cake-nya tebal bila tidak ditambah organic colloid, pH lumpur dibawah 8, karena itu perlu presentative untuk menahan fermentasi starch. Jika salt mudnya mempunyai pH yang lebih tinggi, fermentasi terhalang oleh basa.Suspensi ini bisa diperbaiki dengan penggunaan attapulgite sebagai pengganti bentonite.Adapun jenis-jenis lumpur salt water mud adalah : Unsaturated salt water mud, Saturated salt-water mud dan Sodium-Silicate muds.

2.2.3. Oil-In-Water Emultion Muds (Emultion Mud)
Pada lumpur ini, minyak merupakan fasa tersebar (emulsi) dan air sebagai sebagai fasa kontinu. Jika pembuatannya baik, filtratnya hanya air. Sebagai dapat digunakan baik fresh maupun salt water mud. Sifat-sifat fisik yang dipengaruhi emulsifikasi hanyalah berat lumpur, volume filtrat, tebal mud cake dan pelumasan. Segera setelah emulsifikasi, filtrate loss berkurang. Keuntungannya adalah bit yang lebih tahan lama, penetration rate naik, pengurangan korosi pada drillstring, perbaikan pada sifat-sifat lumpur (viskositas dan tekanan pompa boleh/dapat dikurangi, water loss turun, mud cake tipis) dan mengurangi balling (terlapisnya alat oleh padatan lumpur) pada drillstring. Viskositas dan gel lebih mudah dikontrol bila emulsifiernya juga bertindak sebagai thinner.
Fresh water oil-in-water emulsion muds adalah lumpur yang mengandung NaClsampai 60,000 ppm. Lumpur emulsi ini dibuat dengan menambahkan emulsifier (pembuat emulsi) ke water base mud diikuti dengan sejumlah minyak yang biasanya 5 – 25% volume. Jenis emulsifier bukan sabun lebih disukai karena ia dapat digunakan dalam lumpur yang mengandung larutan Ca tanpa memperkecil emulsifiernya dalam hal efisiensi. Emulsifikasi minyak dapat bertambah dengan agitasi (diaduk).

2.2.4. Oil Base Dan Oil Base Emulsion Mud
Lumpur ini mengandung minyak sebagai fasa kontinunya. Komposisinya diatur agar kadar airnya rendah (3 – 5% volume). Relatif lumpur ini tidak sensitif terhadap kontaminan. Tetapi airnya adalah kontaminan karena memberi efek negatif bagi kestabilan lumpur ini. Untuk mengontrol viskositas, menaikkan gel strength, mengurangi efek kontaminasi air dan mengurangi filtrate loss, perlu ditambahkan zat-zat kimia.
Manfaat oil base mud didasarkan pada kenyataan bahwa filtratnya adalah minyak karena itu tidak akan menghidratkan shale atau clay yang sensitif baik terhadap formasi maupun formasi produktif (jadi ia juga untuk completion mud). Kegunaan terbesar adalah pada completion dan work-over sumur. Kegunaan lain adalah untuk melepaskan drillpipeyang terjepit, mempermudah pemasangan casing dan liner.
Oil base emulsion dan lumpur oil base mempunyai minyak sebagai fasa kontinu dan air sebagai fasa tersebar. Umumnya oil base emulsion mud mempunyai manfaat yang sama seperti oil base-mud, yaitu filtratnya minyak dan karena itu tidak menghidratkan shale/clay yang sensitif. Perbedaan utamanya adlah bahwa air ditambahkan sebagai tambahan yang berguna (bukan kontaminan). Air yang teremulsi dapat antara 15 – 50% volume, tergantung densitas dan temperatur yang diinginkan (dihadapi dalam pemboran). Karena air merupakan bagian dari lumpur, maka lumpur ini dapat mengurangi bahaya api, dan pengontrolan flow propertinya dapat seperti water base mud.

2.2.5. Gaseous Drilling Fluid
Digunakan untuk daerah-daerah dengan formasi keras dan kering. Dengan gas atau udara dipompakan pada annulus, salurannya tidak boleh bocor.
Keuntungan cara ini adalah penetration rate lebih besar, tetapi adanya formasi air dapat menyebabkan bit balling (bit dilapisi cutting/padatan) yang merugikan. Juga tekanan formasi yang besar tidak membenarkan digunakannya cara ini. Penggunaan natural gas membutuhkan pengawasan yang ketat pada bahaya api. Lumpur ini juga baik untuk completion pada zone-zone dengan tekanan rendah.
Suatu cara pertengahan antara lumpur cair dengan gas adalah aerated mud drilling dimana sejumlah besar udara (lebih dari 95%) ditekan pada sirkulasi lumpur untuk memperendah tekanan hidrostatik (untuk lost circulation zone), mempercepat pemboran dan mengurangi biaya pemboran.    



2.3  Additive Lumpur Pemboran
Additive lumpur pemboran adalah material-material yang ditambahkan untuk merawat lumpur agar sesuai sifat-sifatnya dengan yang dibutuhkan. Sifat-sifat yang dibutuhkan tersebut yaitu material pemberat lumpur, material pengental lumpur, material pengencer lumpur, filtration loss control agent dan lost circulation material.

2.3.1 Material Pemberat Lumpur
Material yang ditambahkan untuk menaikkan berat jenis lumpur atau disebut juga dengan weight material. Seperti : Barite atau Barium Sulfate, Calcium Carbonate untuk oil base mud dan Galena.

2.3.2 Material Pengental Lumpur
Zat kimia pengental lumpur merupakan bahan untuk menaikkan viskositas dari lumpur bor. Material ini termasuk viscosifier. Seperti : Wyoming bentonite, High Yielding Clay, Attapulgite clay untuk salt water mud dan Extra high yield bentonite.

2.3.3 Material Pengencer Lumpur
Zat kimia pengencer lumpur ini makdusnya adalah zat kimia yang digunakan untuk menurunkan viskositas lumpur bor atau disebut juga Thinner. Seperti : Chrome lignosulfonate, Alkaline lignite, Sodium Acid Pyrophospate, dll.

2.3.4. Filtration Loss Control Agent
Filtration Loss Control Agent maksudnya adalah bahan-bahan untuk mengurangi filtration loss dan menipiskan mud cake. Seperti : Pregelatinized Starch, Sodium Carboxymethylcellulose,  dll.

2.3.5 Lost Circulation Material
Bahan ini untuk menyumbat bagian yang menimbulkan lost circulation. Jadi bahan untuk menghentikan lost circulation. Seperti : Blended Fiber, Graded Mica, Ground walnut hulls, dll

2.4. Fungsi Lumpur Pemboran
Fungsi lumpur digunakan pada saat operasi pemboran berlangsung, antara lain ;
1.   Mengangkat cutting ke permukaan. Mengangkat cutting tergantung dari :
-          Kecepatan fluida di annulus
-       Kapasitas untuk menahan fluida yang merupakan fungsi dari densitas, aliran (laminer atau turbulen), viskositas. Umumnya kecepatan 100-120 fpm.
2.   Mendinginkan dan melumasi bit dan drill string
Panas dapat timbul akibat gesekan bit dan drill string yang kontak dengan formasi.
3.   Memberi dinding pada lubang bor dengan mud cake
Lumpur akan membuat mud cake atau lapisan zat padat tipis di permukaan formasi yang permeable (lulus air).
4.   Mengontrol tekanan formasi
Tekanan fluida formasi umumnya adalah di sekitar 0.465 psi/ft kedalaman. Diaman Persamaannya yaitu :       
        Pm = 0.052. ρm. D
Dimana :
Pm = tekanan static lumpur, psi
ρm  = densitas lumpur, ppg
D     = kedalaman, ft
5.   Membawa cutting dan material-material pemberat dapat menjadi suspensi bila sirkulasi lumpur dihentikan sementara.
6.   Melepaskan pasir dan cutting di permukaan
Kemampuan lumpur untuk menahan cutting selama sirkulasi dihentikan terutama tergantung dari gel strength. Bahwa cutting/pasir harus dibuang dari aliran lumpur, karena sifatnya yang sangat abrasive (mengikis) pada pompa, fitting dan bit. Untuk ini biasanya kadar pasir maksimal boleh ada sebesar 2%.
7.   Menahan sebagian berat drill pipe dan casing (Bouyancy effect)
8.   Mengurangi efek negatif pada formasi
9.   Mendapatkan informasi (mud log, sample log)
Dalam pemboran, lumpur kadang-kadang dianalisa untuk diketahui apakah mengandung hidrokarbon atau tidak (mud log), sedangkan sample log adalah menganalisa daripada cutting yang naik ke permukaan, untuk menentukan formasi apa yang di bor.
10.   Media logging
Pada penentuan adanya minyak atau gas serta zone-zone air dan juga untuk korelasi dan maksud-maksud lain, diadakan logging (pemasukan sejenis alat antara lain alat listrik atau gamma ray/neutron), seperti electric logging, yang mana memerlukan media penghantar arus listrik di lubang bor.

2.5. Sifat-Sifat Lumpur Pemboran
Komposisi dan sifat-sifat lumpur sangat berpengaruh pada pemboran. Perencanaan casing, drilling rate dan completion dipengaruhi oleh lumpur yang digunakan saat itu.  Berikut sifat-sifat lumpur, yaitu :

2.5.1      Densitas  dan Sand Content
Densitas lumpur bor merupakan salah satu sifat lumpur yang sangat penting karena sebagai penahan tekanan formasi. Adanya densitas lumpur bor yang terlalu besar akan menyebabkan lumpur hilang ke formasi (lost circulation), sedangkan apabila terlalu kecil akan menyebabkan “kick”. Maka densitas lumpur harus disesuaikan dengan keadaan formasi yang akan dibor.
Dalam perhitungan asumsi-asumsi yang digunakan ;
1.    volume setiap material adalah additive :
    
2.    jumlah berat adalah additive, maka ;
keterangan :
Vs           = volume solid, bbl
Vml        = volume lumpur lama, bbl
Vm         = volume lumpur baru, bbl
ρs           = berat jenis solid, ppg
ρml         = berat jenis lumpur lama, ppg
ρmb       = berat jenis lumpur baru, ppg
Sand Content yaitu tercampurnya serpihan-serpihan formasi (cutting) ke dalam lumpur pemboran yang dapat membawa pengaruh pada operasi pemboran, karena akan menambah densitas lumpur yang disirkulasikan, sehingga akan menambah beban pompa sirkulasi lumpur. Oleh karena itu, setelah lumpur disirkulasikan harus mengalami proses pembersihan terutama menghilangkan partikel-partikel yang masuk ke dalam lumpur selama sirkulasi. Alat-alat ini biasanya disebut “Conditioning Equipment”, yaitu : Shale saker, degasser, desander dan desilter.
Penggambaran sand content dari lumpur pemboran adalah persen volume dari partikel-partikel yang diameternya lebih besar dari 74 mikron. 
2.5.2   Viskositas dan Gel Strength
Viskositas dan gel strength merupakan bagian pokok dalam sifat-sifat rheology fluida pemboran, yaitu viskositas sebagai keefektifan pengangkatan cutting dan gel strength digunakan pada saat dilakukan round trip.
Pengukuran viskositas dilakukan dengan menggunakan alat Marsh Funnel. Viskositas ini adalah jumlah detik yang dibutuhkan lumpur sebanyak 0.9463 liter (1 quart) untuk mengalir keluar dari corong Marsh Funnel.
Penentuan harga shear stress dan shear rate yang masing-masing dinyatakan dalam bentuk penyimpangan skala penunjuk  (dial reading) dan RPM motor pada Fann VG viscometer, harus diubah menjadi harga shear stress dan shear rate dalam satuan dyne/cm2 dan detik-1 agar diperoleh harga viskositas dalam satuan cp (centipoise).  
Untuk menentukan harga plastic viscosity (μp) dan yield point (Yp), yaitu :
                    atau
          
2.5.3    Filtrasi dan Mud Cake
Ketika terjadi kontak antara lumpur pemboran dengan batuan porous, batuan tersebut akan bertindak sebagai saringan yang memungkinkan fluida dan partikel-partikel kecil melewatinya. Fluida yang hilang ke dalam batuan tersebut disebut “filtrate”, sedangkan lapisan partikel-partikel besar tertahan dipermukaan batuan disebut “filter cake”.
Apabila filtration loss dan pembentukan mud cake tidak dikontrol maka ia akan menimbulkan berbagai masalah, baik selama operasi pemboran maupun dalam evaluasi formasi dan tahap produksi. Mud cake yang tipis merupakan bantalan yang baik antara pipa pemboran dan permukaan lubang bor. Mud cake yang tebal akan menjepit pipa pemboran sehingga sulit diangkat dan diputar sedangkan filtratnya akan menyusup ke formasi dan dapat menimbulkan damage pada formasi.
Alat yang digunakan untuk menentukan filtration loss adalah Filtration Loss LPLT.    

2.6. Kontaminasi Lumpur Pemboran
Salah satu penyebab berubahnya sifat fisik lumpur adalah adanya material-material yang tidak diinginkan (kontaminan) yang masuk kedalam lumpur pada saat operasi pemboran sedang berjalan. Kontaminasi yang sering terjadi adalah :
1. Kontaminasi Sodium Chlorida (NaCl):
Kontaminasi ini terjadi saat pemboran menembus kubah garam (salt dome)
2. Kontaminasi Gypsum dan
3. Kontaminasi Semen